Tuesday, June 27, 2006

CINTA

Sebetulnya saya rada-rada sungkan juga bicara tentang yang satu ini. Tapi kiranya hal ini dibicarakan akan menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi saya. Gue kan orang yang suka tantangan..hehehe.

Dalam Al-quran istilah cinta dikelompokan menjadi 3 kata yang berbeda dari bahasa arab yaitu "Hubb", "mawaddah" dan "rahmah". Singkatnya ketiga kata tersebut menunjukan tingkatan cinta yang berbeda pula.

Hubb menjadi tingkatan cinta yang "biasa" atau cinta secara umum. Al-quran mencontohkan kata hubb dipakai dalam ayat yang menggambarkan cinta kepada dunia dan cinta kepada syahwat. Hal ini menunjukan cinta si "pencinta" kepada yang dicintainya sangat lah "biasa" atau "umum" dengan kata lain banyak atau bisa jadi hampir setiap orang mampu mencintai dengan kadar cinta seperti ini. Dan sesuatu yang dicintainya suatu saat akan ditinggalkan atau meninggalkan nya dengan mudah dengan sebab sudah tidak layak dicintai atau ada "sesuatu" yang lebih layak dicintai.

Mawaddah. Kata cinta ini mempunyai tingkatan lebih tinggi dari sekedar cinta biasa contoh penerapan kata ini dalam Al-quran seperti pada ayat 21 dari surat Ar-Rum yang berkisah tentang manusi yang diciptakan berpasang-pasangan. Dalam hal ini cinta isteri terhadap suami dan sebaliknya tentunya lebih dari sekedar cinta biasa. Tetapi saya rasa saya belum layak dan belum mampu menggambarkan cinta suami isteri dan sebaliknya itu tadi alasannya ..saya belum menikah...hehe. Tetapi dapat saya katakan di sini cinta tingkat inipun masih mempunyai keterbatasan. Sebagai contoh tidak akan ada suami yang bersedia ikut dikubur ketika mengantarkan isterinya yang meninggal keliang lahat bukan??. Maka dari itu Cinta sejati hanya dapat kita temui dalam tingkatan cinta selanjutnya yaitu rahmah.

Rahmah adalah cinta sejati yang Allah miliki dan Allah curahkan kepada setiap makhlukNya. Sangat sulit untuk menggambarkan betapa dahsyatnya rahmahNya. Surga milik Allah hanya bisa kita tebus dengan rahmahNya. Kalau saya boleh definisikan disini untuk menggambarkan rahmahNya maka semua cinta yang ada di bumi ini hakikatnya adalah manifestasi dari rahmahNya kepada seisi alam semesta. Seorang suami yang mencintai isterinya mungkin merasa biasa saja ketika si isteri membalas cintanya. Akan tetapi sesungguhnya cinta dari si isteri itu adalah bentuk cinta Allah yang diturunkan melalui isterinya begitupun dari sisi sebaliknya isteri yang mencintai suaminya sepenuh hati hakikatnya dibalas dengan cinta Allah melalui suaminya. contoh lain bila kita yang sangat mencintai harta kita sesungguhnya adalah kita sedang dicintaiNya agar kita mempunyai kesenangan hidup di dunia. Tetapi yang lebih menakjubkan dengan cintanya pula makhlukNya diberi kebebasan untuk membalas cintaNya ataupun tidak sama sekali.

Akhir nya saya ingin mencuplik ayat Al-quran yang disebut berulang dalam sura Ar-Rahman yang artinya " Nikmat Allah manakah yang yang engkau dustakan???"

Wa Allah a'lam

Haruskah Kita kembali ke Masa Kanak-Kanak??

Rasa-rasanya selagi kita di SD dulu semua pernah belajar IPA atau IPS dan rasa-rasanya pula dari kelas 3 (tiga) SD semua sudah tahu jika….tanya :”penggundulan hutan dapat menyebabkan??” jawab :”banjiiirrr”..jawab : “tanah longsorr” ..kemudian..tanya :”membuang sampah sembarangan bisa menimbulkan?” jawab :”banjirrr”. Mudah-mudahan kita semua masih ingat dan masih setuju dengan tanya jawab tadi.

Seandainya saja warga negara republik tercinta ini semua terdiri dari anak sekolah dasar atau pernah sekolah di SD rasa-rasanya juga takakan pernah ada pejabat/peneliti/politisi/pengamat atau warga biasa yang lain yang berkata..”Banjir bandang di daerah A terjadi karena daerah hulu sungai B gundul” ….”Tanah longsor di X terjadi karena Bukit Y diatasnya dijadikan perumahan” dan sebagainya.

Terlepas dari bencana itu adzabkah?, ujiankah?, faktor manusiakah? atau faktor alamkah? yang jelas jika semua kejadian itu berulang dan berulang terus bisa memunculkan beberapa kemungkinan diantaranya saja: ..mayorita WNI : sudah lupa pelajaran SD nya dan atau tidak pernah sekolah di SD dan atau pura-pura lupa pelajaran di SD dan atau pura-pura lupa pernah sekolah di SD.
Wa Allah ‘alam

Sabar Mendekatkan Kita pada Derajat Nabi

Terlalu banyak dalil dan riwayat yang menggambarkan tingginya derajat Nabi SAWW. saya coba sampaikan satu diantaranya yaitu QS:33:56 '’Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi-Nya. Hai orang-orang yang beriman bershalawat kalian kepada Nabimu dan keluarganya dan ucapkan salam penghormatan kepadanya.'’
Ya, Allah pun bershalawat kepada Nabi sebelum Allah menyuruh hambanya yang beriman untuk bershalawat kepada nabi-nya. Tentunya ini sangat istimewa, bukankah Allah tak mencontohkan sholat dikala menyuruh umatnya sholat, allah tak mencontohkan puasa dikala menyuruh umatnya berpuasa??.

Lalu bagaimana caranya agar kita Umat Nabi SAWW setidaknya mendekati derajat Nabi SAWW??. Jawaban mudahnya ikuti ajarannya se-istiqamah mungkin (mudah-mudahan semua sependapat). Akan tetapi ada perbuatan “kecil”yang lebih konkrit yang dapat kita lakukan. perbuatan itu ada lah sabar, ya, sabar. Sabar sanggup “memaksa” Allah bershalawat kepada hambanya. Dalam QS :2:156-157” Dan gembirakan orang yang sabar, yaitu orang yang bila meraka ditimpa musibah, mereka kemudian mengucap innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Mereka itulah yang mendapat Shalawat (keberkatan utama) dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”

Wa Allah a’lam
(disarikan dari Al-quran, Kang Jalal & MH. Ainun Najib)

Bersyukur Please!!!!

Dari teman SMP saya (setidaknya saya masih mengenalnya walaupun dia mungkin sudah tak kenal saya) yang kemudian menyampaikan nya lagi kepada teman saya yang saya kenal dekat sampai sekarang….saya mendengar si X teman SMP kami dulu ternyata sudah dari beberapa tahun yang lalu meninggal dunia dan si Y (masih teman kami SMP juga) sekarang sedang sakit sampai tidak mampu berjalan karena salah satu syaraf nya ada yang terjepit….mulailah mengalir pembicaraan antara saya dengan teman tentang keadaan kita sekarang masing-masing yang intinya alhamdulillah dengan keadaaan kami masing-masing yang sekarang kami merasa bersyukur tidak sampai mengalami kejadian yang X dan Y alami.

Saya jadi teringat ayat ALLAH (maaf saya lupa nomor surat dan ayatnya)” barang siapa yang Syakar akan Kutambah nikmatKu dan barang siapa yang Kafar sesungguhnya adzabKu sangat sangat pedih”. Bila kita telaah kata syakar yang serumpun dengan syukur dipasangkan dengan kata kafar yang serumpun dengan kata kufur dan kafir dengan akibat yang bertolak belakang. Dengan kata lain Kafir itu sama saja dengan tidak bersukur dan tidak beryukur sama saja dengan kafir (maaf mungkin terdengar terlalu vulgar).

Efek lebih jauh nya sekarang saya menjadi berfikir jangan-jangan selama ini saya sedang berada dalam kekafiran karena kurang mensyukuri nikmatNya..(..Astagfirullah…).So..”bersyukurlah sebelum Allah menganggap kita kafir”.

wa allah ‘alam

ASSALAMUA'LAIKUM

Assalamua'laikum warahmatullah wabarakatuh