Tuesday, September 11, 2007

Marhaban Yaa Ramadhan

Ramadhan menjadi spesial bagi kaum muslimin karena dalam bulan itu diturunkan perintah shaum selama sebulan penuh untuk orang beriman dan mampu menjalankannya. Shaum yang kita jalankan sering kita istilahkan juga dengan bahasa puasa. Tetapi sesungguhnya terdapat perbedaan makna yang besar antara shaum dan puasa.

Kata puasa secara umum berarti berhenti untuk tidak makan dan tidak minum. Seekor ayam yang sedang mengerami telurnya akan berpuasa selama 21 hari sehingga tubuhnya menjadi panas agar telur yang dieraminya menetas. Bebek puasa lebih lama lagi yaitu sekitar 40 hari saat dia mengerami telurnya.

Jika kita yang mengaku mempunyai derajat lebih dari binatang, lalu islam, lalu beriman dan mampu tetapihanya menjalankan puasa, sesungguhnya puasa kita mempunyai kualitas dengan puasanya ayam atau bebek. Ayam dan bebek berpuasa secara terus menerus sedangkan kita hanya dari imsak sampai maghrib, ayam dan bebek tidak pernah buka bersama juga mereka tidak pernah mendapat THR ketika selesai masa puasanya. Lalu sesungguhnya apakah shaum yang diwajibkan itu?? Sesungguhnya ibadah shaum yang diwajibkan itu bermakna.”imsakun nafsi” atau menjaga hati. Menjaga dalam arti hati kita “dikosongkan” dari hal selain ibadah.

Dari perbadaan makna itu maka tidak makan dan tidak minum dalam puasa adalah sebuah esensi tetapi dalam shaum tidak makan dan tidak minum adalah media bukanlah esensi. Jika anda berniat memeriksakan darah dan oleh dokter disuruh berpuasa tetapi anda karena sesuatu hal menjadi lupa dan menyantap sarapan dipagi harinya, pemeriksaan darah pastilah ditunda karena syaratnya tidak dipenuhi. Jadi anda tidak perlu berdebat dengan dokter memakai hadist dan dalil agama bahwa lupa makan dan minum tidak membatalkan puasa anda. Tetapi jika anda shaum dan lupa menyantap sarapan dipagi hari, shaum anda tidak batal karena tidak makan dan tidak minum dalam shaum hanya media bukan esensi.

Hati atau qalbu kita mempunyai 3 sifat yang menjadi sifat alami manusia pada umumnya yaitu; willing, feeling dan thinking. Seorang yang sedang shaum adalah wajar dan normal bila melihat makanan kemudian ia tergiur untuk memakannya. Seorang suami tentu wajar dan normal bila melihat perempuan yang cantik dan bukan istrinya ia menjadi tertarik. Tetapi dengan shaum qalbu orang yang menjalankannya dimanage sehingga ia tidak tergoda dengan hal-hal yang menimbulkan dosa dan bisa membatalkan shaumnya. Karena qalbunya dimanage ketika seorang yang shaum melihat makanan maka rangsangan tidak akan sampai ke otak, karena otak tidak terangsang maka lambung tidak akan memproduksi asam lambung sehingga akan tidak terasa lapar. Oleh sebab itu shaum tidak akan menyebabkan sakit maag. Hal ini akan sangat berbeda dengan orang yang berpuasa diet karena tujuan annya meninggalkan makan minum ketika melihat makanan sangat mungkin terangsang otaknya untuk makan dan akan terasa lapar bahkan kemungkinan bisa menyebabkan maag.

Diri manusia terdiri dari dua bagian utama yang mempunyai sifat berbeda. Keduanya adalah raga yang bersifat fana dan ruh yang bersifat kekal. Sekuat tenaga kita menjaga kebugaran tubuh kita suatu saat pasti akan mengalami apa yang disebut tua dan pada akhirnya mengalami kematian. Dalam Alquran Allah s.w.t : “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati”. (QS-Al Muminun 12-15). Ya, suatu saat tubuh kita akan merasakan apa yang disebut dengan kematian. Tetapi ruh bersifat kekal, karena ruh Allah tiupkan langsung maka saat tubuh kita mengalami kematian ruh kita akan tetap hidup hanya alam saja yang berpindah. Tetapi dalam kehidupan kita cenderung lebih memperhatikan hal yang bersifat fana. Harusnya kita yang tahu bahwa ada bagian dari diri kita yang kekal lebih memperhatikan kebugaran ruh kita tentunya tanpa mengesampingkan perhatian kita terhadap kebugaran raga. Jika nutrisi untuk raga mudah diketahui dan kita dapatkan lalau apa nutrisi untuk ruh kita??

Kullu mauludin yuuladu ‘alal fitrah, setiap yang dilahirkan dalam keadaan fitrah/suci. oleh karena itu dalam islam tidak dikenal dosa turunan. Raga kita boleh berbeda tetapi ruh kita sama, terlahir dalam keadaan suci. Akan tetapi seiring dengan perjalanannya disunia sebagai mana raga, ruh juga dimungkinkan terkotori oleh amal buruk kita. salah satu nutrisi ampuh untuk menjaga kebugaran ruh kita agar selalu suci adalah ibadah shaum ramadhan. Dalam hadist Rasul berkata : “Barang siapa yang melakukan ibadah di malam hari bulan Ramadhan, karena iman dan mengharapkanridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.” (Muttafaqun ‘alaih). “Barang siapa berpuasa di Bulan Ramadhan dan mengetahui batas-batasnya, dan ia menjaga diri dari segala apa yang patut dijaga, dihapuskanlah dosanya yang sebelumnya.” (HR Ahmad, Baihaqi dengan sanad baik) . Maka sangat masuk akal pula rasul bersabda “Seandainya umatku tahu (keutamaan) apa yang ada pada bulan Ramadhan, niscaya berharap agar satu tahun seluruhnya terdiri dari Ramadhan”.

Melihat hadits-hadits tersebut, maka Bulan Ramadhan adalah sebuah kesempatan emas bagi kita untuk membersihkan kotoran-kotoran dosa dan kesalahan yang melekat pada diri kita sehingga kita termasuk orang yang bertakwa. Amiin.
Marhaban Yaa Ramadhan.

Wednesday, August 09, 2006

Apa yang Bisa Kita Perbuat Untuk Palestina dan Lebanon??

Tulisan ini sengaja saya beri judul dengan kalimat tanya. Tetapi saya yakin dalam tulisan ini saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. bahkan mungkin akan timbul pertanyaan-pertanyaan yang lain. Lebih tepatnya tulisan ini hanya bentuk kebingungan saya saja dalam menyikapi keadaan yang saat ini terjadi di Palestina dan Lebanon. Jadi bila ada pembaca yang ingin mendapat jawaban dari judul di atas anggaplah tulisan ini hanya sebuah intermezo.

Suatu saat setelah menunaikan haji wada Rasul saww berdiri di satu pojok kabah seraya berkata "duhai kabah betapa sucinya engkau.. tetapi demi ubun-ubun ku yang ada ditangan Nya sungguh jauh lebih mulia kehormatan ummatku." ( masih saya coba ingat2 lagi perawinya dan redaksional aslinya). Seandainya saja saya atau anda atau ada orang islam yang lain ataupun orang non islam yang lain saat ini berani (maaf) mengencingi kabah niscaya ummat islam seluruh dunia akan menguhukumnya atau bahkan mungkin ada yang memfatwakan hukuman mati bagi pelakunya. Tetapi apa reaksi kita ummat islam ketika mengetahui kehormatan saudara-saudara kita ummat Muhammad saww telah diinjak-injak dan dirampas zionis Israel??

Umar bin Khatab r.a ketika menjadi khalifah pernah berikrar “tak akan bisa aku tidur pulas bila aku dengar ada seekor kambing milik orang mukmin yang dirampas”. Lalu..bagaimana reaksi pemimpin-pimimpin kita sekarang tatkala mengetahui bukan saja seekor kambing dari orang mukmin yang hilang tetapi seluruh hartanyapun nyaris binasa??

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik r.a, pelayan rasulullah saww, bahwa rasulullah saww bersabda, “ Seseorang diantara kalian tidak dikatakan beriman sehingga dia tidak mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari muslim) . Lalu..apa bukti cinta kita kepada saudara-saudara kita di Lebanondan Palestina sekarang ini?? Bukan kah kita meyakini firman Allah “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” ?? ( Al-Quran Surah al-Hujurat: 10)

Semoga kita senantiasa diberi petunjukNya. Amiin.

Tuesday, August 08, 2006

Doa Untuk Orang Tua

Dengan asma Allah Yang MAha Kasih dan Maha Sayang, Ya Allah sampaikan sholawat kepada Muhammad hamba-Mu dan Rasul-Mu dan keluarganya yang suci. Istimewakan mereka dengan yang paling utama dari rahmat-Mu, kasih-Mu, Kemuliaan-Mu dan Kedamaian-Mu.
Ya Allah istimewakan juga kedua orangtuaku dengan kemuliaan di sisi-Mu dan rahmat-Mu, Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi.

Ya Allah sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Ilhamkan kepadaku ilmu tentang kewajibanku terhadap keduanya dan sempurnakanlah pengetahuanku atas kewajiban tersebut. Gerakkan aku untuk mengamalkan apa yang Kau ilhamkan kepadaku. Bimbinglah aku untuk melaksanakan pengetahuan yang telah Kau tunjukkan aku sehingga aku tidak kehilangan waktu untuk mengamalkan apa yang telah Kau ajarkan kepadaku dan anggota badanku tidak berat untuk melakukan apa yang telah Kauilhamkan kepadaku.

Ya Allah sampaikan sholawat kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Kau muliakan kami dengannya. Ya Allah jadikanlah aku tunduk kepada keduanya (orangtua kami) laksana tunduk di hadapan penguasa zalim, dan berbakti kepada mereka laksana ibu yang penyayang.Jadikanlah ketaatanku dan baktiku kepada mereka lebih indah di mataku daripada tidur dikala mengantuk dan lebih sejuk di wajahku daripada meneguk air dikala dahaga. Sehingga keinginan mereka lebih kuutamakan dari keinginanku, kudahulukan keridhoan mereka dari keridhoanku dan menganggap banyak kebajikan mereka walaupun sedikit dan menganggap sedikit kebaikan kepada mereka walaupun banyak.

Ya Allah, terhadap mereka rendahkanlah suaraku, indahkanlah tutur kataku, lembutkanlah perangaiku, lunakkanlah hatiku, jadikanlah aku selalu menemani dan mengasihi mereka.
Ya Allah, berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya atas didikan mereka kepadaku. Berilah mereka pahala yang besar atas kasih sayang yang mereka limpahkan atasku. Peliharalah mereka sebagaimana mereka memeliharaku di masa kecilku. Ya Allah, apa saja gangguan yang telah mereka rasakan, atau kesusahan yang mereka derita karenaku, dan hak-hak mereka yang kusia-siakan, jadikanlah itu semua pelebur dosa-dosa mereka, peningkat derajat mereka dan penambah kebaikan mereka, wahai Yang mengganti keburukan dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Ya Allah, apapun kesalahan kata-kata mereka terhadapku, tindakan mereka yang berlebihan atasku, hak-hakku yang tidak mereka penuhi dan kewajiban mereka terhadapku yang mereka lalaikan, itu semua telah kurelakan. Aku berbakti kepada mereka dengannya. Dan aku harap Engkau pun mengampuni kesalahan mereka tersebut. Sungguh aku tidak menuduh mereka menyia-nyiakanku atau lalai mengasihiku. Aku tidak membenci apa yang mereka lakukan atasku.

Wahai Tuhanku, hak mereka terlampau besar, kebaikan mereka lebih utama dan pemberian mereka lebih agung untuk dapat kubalas dengan adil atau kuganti sebagaimana layaknya.
Ya Allah, bagaimana mungkin aku membalas masa-masa kesusahan mereka alami ketika membesarkanku? Di manakah kelelahan mereka tatkala menjagaku? Di manakah kepedihan mereka dalam memberikan yang terbaik kepadaku? Oh sungguh jauh aku untuk menunaikan hak-hak mereka. Tidaklah mungkin aku melaksanakan apa yang menjadi kewajibanku terhadap mereka. Dan aku takkan sanggup melakukan tugas berhidmat kepada mereka. Maka bershalawatlah kepada Muhammad dan keluarganya dan bantulah aku dalam kesemuanya itu, wahai Sebaik-baik yang diminta pertolongan. Berilah taufik padaku, wahai Yang paling benar tatkala diharap. Janganlah Kau golongkan aku dengan mereka yang durhaka kepada ayah dan ibu pada hari dibalasnya semua perbuatan manusia sedang mereka tidak dianiaya.

Ya Allah bershalawatlah kepada Muhammad, keluarga dan keturunannya dan khususkanlah bagi kedua orangtuaku dengan apa yang Kau khususkan orangtua para hamba-Mu yang mu'min, wahai Yang Pengasih dari para pengasih.

Ya Allah, janganlah Kau jadikan aku lupa menyebut mereka setiap usai sholat-sholatku, disaat-saat kegelapan menyelimuti malam dan setiap waktu bersinarnya mentari di siang hari.

Ya Allah, limpahkanlah rahmatmu kepada Muhammad dan keluarganya dan ampunilah aku dengan sebab do'aku untuk mereka. Ampunilah keduanya dengan sebab belas kasih mereka padaku. Berikanlah keridhoan-Mu untuk mereka dengan syafaatku pada mereka. Tuntunlah mereka dengan segala kemuliaan menuju tempat keselamatan.

Ya Allah apabila ampunan-Mu telah lebih dahulu Kau berikan kepada mereka maka Dengan asma Allah Yang MAha Kasih dan Maha Sayang, Ya Allah sampaikan sholawat kepada Muhammad hamba-Mu dan Rasul-Mu dan ahlul baytnya yang suci. Istimewakan mereka dengan yang paling utama dari rahmat-Mu, kasih-Mu, Kemuliaan-Mu dan Kedamaian-Mu. Ya Allah istimewakan juga kedua orangtuaku dengan kemuliaan di sisi-Mu dan rahmat-Mu, Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi.

Doa ini dikutip dari shohifah As-sajjadiyah (Kumpulan Doa Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad a.s.) Doa ke-24. Doa Imam a.s. untuk Kedua Orangtuanya.

Tuesday, July 25, 2006

Amalan yang Mengantar ke Surga

Dari mu'adz bin jabbal r.a. berkata : Aku berkata, "Wahai Rasulullah SAWW, beritahu aku amal yang akan memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka." Beliau bersabda, "Engkau telah bertanya tentang masalah yang besar. Namun itu adalah perkara yang mudah bagi siapa yang dimudahkan oleh Allah swt. Engkau harus menyembah Allah dan jangan menyekutukanNya, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa ramadhan dan haji ke Baitullah."

Kemudian beliau bersabda, "Maukah kamu aku tunjukan pintu-pintu kebajikan? Puasa adalah perisai, sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api dan salat ditengah malam."

Kemudian beliau bersabda kembali setelah terlebih dahulu membaca ayat 16-17 surat As-Sajdah. "Maukah kalian kuberitahu pangkal agama, tiangnya dan puncak tertingginya?" aku menjawab "Mau, wahai Rasulullah." Rasulullah SAWW bersabda, "Pangkal agama adalah islam (masuk islam dengan syahadat), tiangnya adalah shalat dan puncak tertingginya adalah jihad."

Kemudian beliau melanjutkan, "Maukah kalian kuberitahu tentang kendali bagi semua ini?" Saya menjawab "Mau ya Rasulullah." Beliau lalu memegang lidahnya dan bersabda, "Jagalah ini." Saya berkata, "Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena ucapan-ucapan kita?" Beliau menjawab, "Celaka kamu. Bukankah banyak dari kalangan manusia yang tersungkur ke dalam api neraka dengan mukanya terlebih dahulu (dalam riwayat lain: dengan lehernya terlebih dahulu) itu gara-gara buah ucapan lisannya?"

(HR. Tirmidzi ia berkata, "hadist ini hasan shahih)

Isa a.s / Yisas/Yesus

Ada kalanya kita ummat islam dibingungkan dengan keterkaitan Nabi Isa a.s yang kita imani sebagai Nabi/Rasul Allah dengan kepercayaan saudara kita umat nasrani terhadapnya. Begitu juga dengan serangkaian sejarah yang menyertainya. Untuk itu saya coba ringkaskan hal-hal yang perlu kita sikapi sebagai ummat islam yang mengimani Nabi Isa a.s sebagai Nabi/Rasul Allah.

1. Mengenai kelahiran Isa almasih/yisas/yesus tanggal pasti kelahirannya tidak lah penting untuk dipersoalkan karena tidak terdapat dalam quran&hadist secara jelas, dan hal ini tidak lah menjadi hal penting dalam kita mengimani Isa a.s sebagai Nabi/Rasul-Nya. Bahkan terdapat pula perbedaan pendapat dalam hal ini pada saudara kita yang beragama nasrani.

2. Mengenai kenaikan Isa almasih/yisas/yesus, kita ummat islam wajib meyakini bahwa Nabi isa memang diangkat oleh Allah.
3. Dalam hal kematiannya kita wajib mempercayai bahwa beliau tidak dibunuh.
4. Mengenai diangkat itu kemudian manjadi meninggal atau tidak hal itu tidak manjadi masalah aqidah dalam islam. Intinya silakan bagi yang mempercayai kemudian setelah diangkat itu meninggal atau masih hidup hingga sekarang.
5. Mengenai Isa a.s akan turun kembali di akhir zaman hal ini didasari oleh banyak hadist. tetapi hadistnya hanya bersumber ke pada 2 orang ( saya lupa namanya) yang kedua orang ini masuk islam setelah memeluk agama lain. Seperti masalah nomor 4 tadi ada ulama yang memyakini hal ini didasari hadist tadi tetapi ada yang tidak meyakini dikarenakan dikhawatir kan 2 orang yang menyampaikan hadis ttg hal ini dipengaruhi oleh kepercayaan yang mereka anut sebelum masuk Islam.
6. bagi yang mempercayai bahwa nabi isa akan turun kembali. dalam hal bagaimana nanti dia akan turun tidak perlu dianggap sesuatu yang luar biasa sebab nabi isa memang dari awal diberi mukjizat oleh Allah swt dengan keanehan keanehan seperti; dia tak ber ayah, sudah bisa berbicara semenjak bayi dan "misteri" kemaitiannya.
6. Bagi yang tidak mempercayai no 5. no 6 tidak ada masalah.
Wa Allah a'lam

disarikan dari ceramah Dr. Quraisy Shihab

Wednesday, July 19, 2006

Bersabarlah, dan Kemenangan Itu Akan Menjadi Milik Kita

Hidup memang penuh dinamika, kadang kita berada di atas, namun tak jarang kita berada di bawah. Suatu saat kita dilimpahi dengan kesenangan dan kenikmatan duniawi, seperti mendapat keuntungan besar dalam perdagangan, mendapat pujian, naik jabatan, dsb. Dan di saat lainnya kita dihadapkan pada situasi sulit yang menghimpit dada, seperti terbelit hutang, mendapat fitnah, ditinggalkan oleh keluarga yang kita cintai, kehilangan barang, dsb. Di saat-saat ini, dunia terasa sempit bagi kita, ingin rasanya hati ini menjerit sekuat tenaga untuk menghalau beban yang menyesakkan, berusaha mencari sedikit ruang untuk bernapas dengan lega.

Tak jarang permasalahan dalam kehidupan ini mampu membutakan manusia. Hati dan penglihatannya menjadi gelap, sedang telinganya tersumbat. Ia tidak dapat membedakan lagi antara yang benar dan yang batil, yang ada dalam pikirannya hanyalah keinginan untuk melampiaskan kemarahan dan kesedihan hatinya. Ia tidak lagi memandang permasalahan yang dihadapinya dengan perspektif yang benar. Akibatnya, ia melakukan hal-hal yang berakibat sangat fatal, dan inilah yang banyak terjadi di sekeliling kita. Sudah terlalu sering kita mendengar, membaca, atau melihat melalui media massa berbagai kejadian mengenaskan di mana kehidupan seorang manusia sudah tidak ada artinya lagi. Sudah bosan kita dicekoki dengan pemberitaan mengenai tindakan zalim seorang ayah terhadap anaknya, anak terhadap ibunya, seorang anak terhadap temannya, dsb.

Lalu mengapakah manusia harus dihadapkan pada situasi semacam ini?

Mari kita kaji satu ayat dalam Al-Quran, di mana Allah berfirman,

QS. Al-Baqarah : 214

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Demikianlah hakikat kehidupan, Saudaraku. Sesungguhnya tidak diturunkan manusia di bumi ini melainkan Allah berkehendak menguji, siapa di antara kita yang beriman, dan siapa di antara kita yang ingkar. Iman memang mudah diucapkan oleh lisan, tetapi untuk membuktikannya dibutuhkan perjuangan yang berat. Sejarah telah menceritakan kepada kita bagaimana Allah menguji umat-umat sebelum kita dengan cobaan yang dahsyat, tanpa terkecuali. Al-Quran menyebutkan kisah-kisah kaum terdahulu, bagaimana para nabi dan rasul beserta pengikutnya berjuang melawan kezaliman.

Lalu, apabila orang-orang yang beriman selalu diuji atas keimanan mereka, di manakah letak keadilan?

Ayat di atas telah menjelaskan bahwa surga adalah balasannya. Sesungguhnya dunia ini hanyalah sementara, sedangkan kehidupan yang sesungguhnya lagi kekal adalah kehidupan akhirat. Di sana segala amal baik dan buruk diperhitungkan dengan tepat tanpa menyisakan satu amal pun yang terlewat. Setiap amal baik akan mendekatkan manusia ke surga, sedangkan setiap amal yang buruk akan mendekatkan manusia ke neraka. Segala urusan yang tidak tuntas di dunia akan diselesaikan Allah dengan seadil-adilnya di akhirat. Itulah mengapa Islam datang pertama kali dengan seruan kepada manusia untuk meyakini adanya kehidupan akhirat.

Bagaimanakah manusia yang lemah dan terbatas ini mampu melalui cobaan-cobaan itu?

Sesungguhnya Allah telah menjanjikan pertolongan kepada Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya. Pertolongan Allah itu amat dekat. Ia pasti datang dan menyelamatkan manusia.

Namun dengan apa manusia meminta pertolongan kepada Allah ketika ditimpa cobaan?

QS. Al-Baqarah : 153-157

“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Marilah kita renungkan, Saudaraku, bagaimana Nabi Nuh as berjuang menegakkan kalimat Allah selama hampir 1000 tahun, dan beliau tidak mendapatkan bersamanya pengikut melainkan sebagian kecil manusia saja? Bagaimana Nabi Ayub as menghadapi sakit yang dideritanya, bagaimana Nabi Yusuf as menghadapi kedengkian saudara-saudaranya, godaan Zulaikha, dan fitnah yang ditimpakan atas dirinya? Lalu bagaimana yang terjadi dengan Rasulullah saw bersama kaum mukmin menghadapi cobaan yang datang dari kaum Quraisy? Mereka tidak hanya mendustakan ajaran yang dibawa Rasulullah saw, tetapi mereka juga menyiksa, mengintimidasi, memfitnah, bahkan mereka bermaksud membunuh Rasulullah saw.

Dengan apakah, wahai Saudaraku, para hamba pilihan Allah bersama pengikutnya itu menghadapi cobaan yang begitu berat, sampai akhirnya mereka memperoleh kemenangan yang mutlak? Tidak lain dengan kesabaran. Sabar merupakan senjata menghadapi berbagai masalah kehidupan. Bahkan ketika cobaan itu merenggut jiwa dari badannya, sesungguhnya orang-orang yang gugur dalam iman kepada Allah, gugur dalam memperjuangkan agama Allah, mereka itu hidup dan mendapat ridha Allah.

Cobaan adalah sesuatu yang tidak terhindarkan dalam kehidupan. Maka janganlah apa-apa yang ‘seolah-olah’ kita miliki di dunia ini, baik itu harta, jiwa, kedudukan dan anak-anak kita membutakan mata hati kita. Hakikatnya semua itu bukanlah milik kita. Semua itu hanyalah titipan Allah, yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh pemiliknya. Bahkan tidak ada setitik debu pun di dunia ini yang menjadi milik kita. Lalu apakah kita akan menghalangi Sang Pemilik untuk mengambil apa yang menjadi hak dan wewenangnya? Na’udzubillaah.

Tidak ada daya dan kekuatan kita untuk melawan apa yang telah menjadi ketetapan Allah. Segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Saudaraku, ingatlah konsep kepemilikan ini setiap saat dalam hidup kita, insya Allah kita akan mendapat kemudahan untuk tetap berada dalam kesabaran ketika menghadapi berbagai macam cobaan.

Namun kesabaran dalam Islam tidaklah berarti menyerah kepada keadaan, menerima setiap perlakuan dan penindasan. Sabar meliputi ikhtiar dengan niat mencari ridha Allah semata. Hidup adalah sebuah perjuangan, dan ibarat sebuah perjuangan, sabar adalah strategi menghadapi musuh yang di dalamnya terdapat teknik bertahan dan menyerang. Keduanya harus digunakan pada saat yang tepat. Tidak selamanya perjuangan berarti penyerangan ke garis batas musuh, bisa jadi kita memerlukan waktu untuk bertahan, bahkan mengambil langkah mundur sesaat. Akan tetapi kita harus terus menghinpun kekuatan dan menyusun langkah hingga kita bisa menembus pertahanan musuh dan memperoleh kemenangan. Niatkanlah semuanya karena Allah.

Saudaraku, sesungguhnya kemenangan itu telah pasti dijanjikan Allah kepada orang-orang yang sabar. Teguhkan iman, sesungguhnya Allah begitu mengasihi hamba-hamba-Nya yang bersabar. Sambutlah datangnya pertolongan Allah dan kemenangan yang telah dijanjikan, berupa kebahagiaan kehidupan yang kekal, kehidupan akhirat.

“Apabila telah Ku-bebankan kemalangan (bencana) kepada salah seorang hamba-Ku pada badannya, hartanya, atau anaknya, kemudian ia menerimanya dengan sabar yang sempurna, Aku merasa enggan menegakkan timbangan baginya pada hari kiamat atau membukakan buku catatan amalan baginya.”

(HQR. Al-Qudlani, Ad-Dailani, dan Al-Hakimut Turmudzi dari Anas ra)

QS. Ali Imran : 200

“Hai orang-orang yang beriman, berlaku sabarlah dan perkuat kesabaran di antara sesama kalian, dan bersiap-siaplah kalian serta bertaqwalah kepada Allah supaya kalian memperoleh kemenangan.”

QS. Al-Fajr : 27-30

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhan-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surgaku.”

Wa Allah a'lam

Kopi paste dari artikel Didi

Tuesday, July 11, 2006

Inginkah Kita dicintai Allah dan Orang Lain?

Dari abu Al-Abbas sahl bin Sahl bin sa’d As-sa’idi r.a berkata bahwa seorang laki-laki telah datang kepada nabi SAWW dan berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkan aku suatu amal jika aku lakukan aku akan dicintai Allah dan dicintai oleh manusia”. Kemudian Rasulullah SAWW bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya dicintai Allah, dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki orang lain, niscaya mereka akan mencintaimu”.
( hadist hasan diriwayatkan oleh ibnu majah dan yang lainnya dengan sanad hasan ).
Tentang pengertian zuhud saya mencoba merujuk kepada pendapat imam A’li r.a yaitu :"Seandainya seorang mengambil semua apa yang ada di bumi dan dengannya ia berkehendak menuju kepada Allah, maka ia adalah orang yang zuhud, dan seandainya meninggalkan semuanya -- tidak ditujukan kepada Allah, ia bukan orang yang zuhud."
Dari perkataan imam Ali r.a di atas jelaslah bahwa zuhud diartikan sebagai pemanfaatan seluruh potensi duniawi yang mampu kita capai hanya untuk tujuan akhirat. Dengan kata lain akhirat lah yang lebih diutamakan dari pada kepentingan duniawi. Terlebih kepentingan duniawi yang bisa menjauhkan kita dari tujuan akhirat.
Dalam kehidupan kita sehari-hari seseorang yang miskin secara duniawi bisa jadi dia seorang yang sedang ber-zuhud tetapi tidak setiap hidup miskin itu pasti zuhud. Sebaliknya bisa saja seorang yang kaya raya itu sedang ber-zuhud tetapi untuk hidup zuhud tidak perlu harus kaya secara duniawi. Artinya hidup zuhud lebih menitik beratkan kepada tujuan hidup ketimbang ukuran yang sifatnya fisik.
Terakhir ingin saya petik firman Allah dalam surat Alanfal ayat 28 yang berbunyi: "Dan ketahuilah olehmu bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai ujian dan cobaan (hidup di akhirat) dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar."
Wa Allah a’lam

Thursday, July 06, 2006

Petuah A'li R.A

Dosa terbesar adalah takut
Rekreasi terbesar adalah bekerja
Kesalahan terbesar adalah putus asa
Keberanian terbesar adalah sabar
Guru terbaik adalah pengalaman
Rahasia terpenting adalah kematian
Kebanggaan terbesar adalah kepercayaan
Keuntungan terbesar adalah anak shaleh
Pemberian terbaik adalah partisipasi
Modal terbesar adalah percaya diri